Thursday, February 12, 2015

UPACARA PERNIKAHAN ADAT KEPULAUAN RIAU

 Griya Pengantin TRI SEKAR
Melayani rias pengantin, sewa kebaya dan beskap, paket siraman serta acara adat yang menambah kesakralan pernikahan anda.Kami menyediakan busana adat Jawa, Solo, Jogja, Sunda,Betawi,  Padang, Riau & Nasional.Moment sekali seumur hidup yang akan sangat terkesan dan tak terlupakan.
Alamat:
Griya Pengantin Tri Sekar
Komplek Kehutanan
Jalan Wanamulya X/4 Rt:02/4
Karang Mulya, Karang Tengah
Ciledug-Tangerang
No Telp (021) 5855924
No HP ; 081808070141, 085212097666







A,adat pernikahan
Dalam adat melayu kepulauan riau banyak cara atau upacara yang di lakukan sebelum seseorang menikah.hal ini di lakukan sampai sekarang yang bertujuan menjaga budaya warisan agar tidak hilang di makan zaman yang semakin modern ini.

Secara umum, tradisi perkawinan masyarakat Melayu Tanjungpinang, Provinsi Kepulauan Riau, Indonesia terbagi dalam beberapa tahapan, antara lain; (1) Menjodoh, Merisik, (2) Memberitahu/Menyampaikan Hajat, (3) Meminang, (4) Berjanji Waktu, (5) Mengantar Belanja, (6) Ajak Mengajak, (7) Beganjal, (8) Betangas, (9) Gantung-gantung, (10) Berandam, (11) Berinai Kecil, (12) Serah Terima Hantaran, (13) Akad Nikah, (14) Berinai Besar, (15) Tepuk Tepung Tawar, (16) Berarak, dan (17) Bersanding (Ishak Thaib, 2009).

1)        Menjodoh
Menjodoh adalah pekerjaan yang dilakukan oleh orang tua untuk mencari dan mencocokkan calon suami/istri untuk anaknya. Mencari jodoh merupakan tanggung jawab orang tua terhadap anaknya dan oleh sebab itulah pekerjaan ini dilakukan dengan sangat hati-hati dan sangat rahasia, yang diawali dengan niat dan penglihatan. Penglihatan ini tidak hanya dengan mata kasar akan tetapi juga dengan mata hati. Umumnya yang menjadi penilaian di dalam kegiatan mencari jodoh adalah tentang kepercayaan. Calon pasangan anak harus se-iman, ya sudah tentu Islam, garis  keturunannya, pekerjaannya, tingkah laku dan perangainya, dan terkhir adalah tentang status.
Dalam proses menjodoh ini sering sekali orang tua yang langsung mencari, namun ada beberapa juga yang memercayakannya pada orang lain yang dipercaya. Biasanya orang ini disebut dengan tali barut atau mak comblang.
Orang tua zaman dulu memang memiliki kemampuan untuk melihat sifat dan prilaku seseorang dari berbagai media; telaah nama, tanggal kelahiran, tanda badan, dan lain-lain yang sifatnya abstrak. Proses ini merupakan langkah awal untuk menentukan apakah nantinya pasangan yang dipilih cocok atau tidak dengan anaknya.
Seiring perkembangan zaman, masyarakat Melayu Tanjungpinang, Provinsi Kepulauan Riau, Indonesia secara umum sudah tidak lagi melakukan proses menjodoh ini. Orang tua secara utuh memberikan kepercayaan kepada anaknya untuk memilih jodohnya sendiri. Dan peranan orang tua zaman sekarang hanya me-monitor pilihan anaknya jangan sampai salah.





2)        Merisik
Merisik atau menyelidiki adalah pekerjaan yang sering dilakukan oleh perempuan separuh baya. Perempuan ini ditugaskan untuk pergi melihat dari dekat keadaan sesungguhnya dari dekat perihal sigadis yang akan dipersunting.
Orang yang ditunjuk menjadi perisik haruslah sopan, ramah dan amanah. Ahli dalam bertutur kata yang bermakna tersirat atau berupa bahasa kias. Biasanya orang tersebut berasal dari keluarga  atau kerabat terdekat yang mempunyai hubungan keakraban yang kuat dengan orang tua si gadis.
Perisik melaksanakan tugasnya dengan cara bertamu, atau ada juga yang sambil mencari kutu. Sering sekali hal ini dilakukan dengan bersenda gurau. Jika seluk beluk si gadis baik yang menyangkut sifat dan prilaku maupun yang menyangkut ibadah telah diketahui secara pasti, barulah hasilnya disampaikan kepada orang tua yang mengutus. Jika masih ada yang diragukan, biasanya perisik akan berkunjung lagi dengan alasan yang berbeda, agar tidak dietahui oleh pihak perempuan maksud dan tujuan yang sebenarnya.
Pada hakekatnya merisik bertujuan untuk mendapatkan informasi lebih teliti, penuh kearifan dan bijaksana tentang calon yang dirisik atau yang diinginkan.

3)        Memberitahu / Menyampaikan hajat
Setelah proses merisik terlaksana dengan baik, lalu diutuslah keluarga atau orang tua yang “dituakan” sebagai wakil pihak laki-laki untuk memberitahu orang tua si gadis bahwa akan ada utusan pihak lelaki untuk menyampaikan hajat meminang. Pada saat ini terjadi perundingan kedua belah pihak untuk menentukan waktu yang tepat untuk meminang.
Pemberitahuan ini merupakan etika adat Melayu yang berguna agar pihak perempuan dapat memberitahu sanak keluarga atau kerabatnya untuk hadir dalam acara tersebut dan atau dengan kata lain agar pihak perempuan “punya” persiapan untuk menerima tamu yang akan datang. Secara umum tujuan memberitahu ini adalah meluahkan apa yang tersirat di hati untuk disampaikan kepada pihak perempuan.







4)        Meminang
Sebelum proses meminang dilaksanakan, terlebih dahulu perlu mempersiapkan se-tepak sirih lengkap, masing-masing kelengkapan yang diletakkan di dalam tepak sirih juga mengandung lambang tertentu. Adapun isi dari tepak sirih dan perlambangan tersebut :
a.       Buah pinang
Sebutir pinang yang telah diupas kulitnya dan diraci. Tidak boleh dibelah dua (utuh). Dalam adat Melayu Tanjungpinang, Provinsi Kepulauan Riau, Indonesia, buah pinang melambangkan keikhlasan dan ketulusan hati seseorang. Lurusnya hati seumpama mempulur pinang. Buah tersebut diletakkan di dalam cembul, yaitu tempat di dalam tepak sirih.
b.      Kapur sirih
Kapur sirih berwarna putih melambangkan kebersihan dan kesucian hati. Kapur ini juga diletakkan di dalam cembul.
c.       Gambir
Melambangkan keberkatan dan obat penawar. Gambir juga diletakkan di dalam cembul.
d.      Tembakau
Tembakau diletakkan di dalam cembul, gunanya untuk menyugi gigi sesudah memakan sirih. Tembakau melambangkan kebersihan jasmani.
e.       Daun sirih
Daun sirih melambangkan kebesaran, persaudaraan, dan persatuan. Hal tersebut disebabkan sifat dari sirih yang mudah tumbuh dan memiliki khasiat untuk mengobati beragam penyakit. Daun sirih dari pihak laki-laki disusun dalam posisi telungkup dalam jumlah ganjil. Daun sirih telungkup bermakna rendah hati dan berserah diri. Lain halnya sirih dari pihak perempuan yang disusun telentang. Hal ini melambangkan penerimaan dan penyerahan diri. Daun sirih yang bertemu ujung bermakna tercapainya kesepakatan di kedua belah pihak.
f.       Kacip
Merupakan alat pembelah atau peracik buah pinang. Terbuat dari besi. Selain untuk meracik juga digunakan untuk mengupas kulit pinang. Kacip melambangkan se-iya se-kata, kemufakatan bersama dalam keputusan yang baik.



Semua peralatan di atas disusun di dalam cembul tepak. Penyusunan dimulai dari cembul kapur, cembul pinang, cembul gambir, cembul tembakau, dan kacip di sebelahnya serta daun sirih. Secara keseluruhan tepak sirih melambangkan persaudaraan, keterbukaan, persatuan, dan kesatuan dalam keutuhan saling melengkapi.

Persiapan selanjutnya, pihak laki-laki menunjuk orang yang di-tuakan dan sangat faham dalam hal pinang meminang. Biasanya orang tersebut juga memiliki pengaruh dalam masyarakat, seperti; tok lebai, tok haji, tokoh adat, pemantun, dan pak imam. Sebelum berangkat meminang, di rumah pihak laki-laki diadakan pembacaan doa selamat dan hidangan. Perundingan dalam acara pinang meminang ini selalu dibuka dengan bait-bait pantun.
Disebabkan perubahan zaman, sekarang ini acara meminang disejalankan dengan membawa tanda jadi (tanda pinangan). Hal ini dikarenakan kedua calon pengantin sudah saling suka atau saling kenal (berpacaran). Berbanding terbalik jika dibandingkan dengan zaman dahulu, anak gadis dilarang keluar rumah, apalagi berpacaran. Hal tersebut sudah barang tentu menyebabkan laki-laki dan perempuan yang akan menikah tidak saling kenal.
Begitu juga dengan halnya mengantar tanda (bertunangan). Di zaman dahulu, acara ini tidak banyak diketahui orang, karena sifatnya sangat rahasia dan tertutup. Acara mengantar tanda dahulunya tidaklah merupakan suatu adat, ini disebabkan antara kedua belah pihak tidak lama bertangguh tempo, sehingga tidaklah perlu acara mengantar tanda dilaksanakan. Tidak halnya dengan zaman sekarang, acara mengantar tanda telah menjadi satu kebiasaan dalam masyarakat Melayu Tanjungpinang. Hal ini disebabkan di antara kedua belah pihak berjanji untuk melangsungkan pernikahan dalam waktu yang lama, untuk itu perlu diberikan cincin sebagai tanda  (tunangan). Sewaktu mengantar tanda dibuat juga perjanjian antara kedua belah pihak, perjanjian terbut berbunyi :
“... Jika pihak laki-laki mengingkar janji, maka tanda yang telah diberikan menjadi milik perempuan, atau dengan istilah lain “hangus”. Namun, jika pihak perempuan yang mengingkar janji, maka harus mengganti dua kali lipat dari tanda yang diberikan...”

5)        Berjanji Waktu
Setelah pinangan diterima maka kedua belah pihak berunding untuk menentukan hari pelaksanaan pernikahan yang tepat (hari baik, bulan baik). Waktu yang lazim digunakan untuk melaksanakan pernikahan tersebut adalah pada bulan Rabi’ul Awal, Rabi’ul Akhir, Jumadil Awal, Jumadi Akhir, Sa’ban, dan Zulhijah. Bulan yang jarang diambil untuk pelaksanaan pernikahan adalah bulan Syafar dan Zulkaedah atau disebut juga dengan nama bulan Apit, pada umumnya ada kepercayaan dalam masyarakat, pada bulan apit ini banyak mendatangkanmudaharat. Dalam memilih hari, yang dianggap hari baik adalah hari senin, kamis, jum’at, sabtu, dan minggu. Sedangkan hari selasa dan rabu dianggap juga mendatangkan mudharat.
Maksud dan tujuan diadakan berjanji waktu ini adalah untuk mencari hari baik dan bulan baik agar pasangan yang menikah nanti mendapatkan hal yang baik-baik dan terhindar dari kemudharatan.

6)        Mengantar Belanja
Mengantar tanda bermaksud menunjukkan rasa tanggung jawab dari pihak laki-laki untuk mempersunting gadis idamannya. Pada hakekatnya mengantar belanja mencerminkan rasa senasib sepenanggungan, se-aib se-malu, yang berat sama dipikul, yang ringan sama dijinjing. Dalam ungkapan Melayu disebutkan :
Adat orang mengantar belanja
Tanda beban sama dipikul
Tanda hutang sama dibayar
Tanda adat sama diisi
Tanda lembaga sama dituang
Antar belanja bukan bersifat jual beli atau menghitung untung rugi, tetapi sepenuhnya mengacu pada nilai kekeluargaan dan kekerabatan, seperti dalam ungkapan sebagai berikut ;
Yang lebih tambah menambah
Yang kurang isi mengisi
Yang berat sama dipikul
Yang ringan sama dijinjing
Yang pahit sama dirasa
Yang manis sama dicecah

Adat Melayu melarang serta memantangkan tawar menawar dalam menentukan besar kecilnya hantaran. Dalam memberikan hantaran terbagi atas dua cara, yaitu ; (i) Hantaran tidak sama naik, dan (ii) Hantaran sama naik.
Hantaran tidak sama naik maksudnya, uang hantaran (uang hangus) dihantarkan jauh-jauh hari sebelum acara pernikahan dilaksanakan. Sedangkan uang hantaran sama naik bermaksud, uang hantaran diberikan pihak laki-laki sewaktu pelaksanaan pernikahan. Jumlah uang hantaran tidak menjadi konsumsi umum, yang mengetahui besaran uang hantaran yang diberikan hanya keluarga dan kerabat dekat pengantin saja.

7)        Ajak Mengajak
Prosesi ini dilakukan untuk meminta pertolongan kerabat, sekaligus memberi kabar baik pada sanak saudara, kaum kerabat, dan tetangga terdekat yang secara khusus diminta datang untuk menolong mempersiapkan acara. Prosesi ini dilakukan sekurang-kurangnya tiga hari sebelum acara gantung-gantung. Maksud dan tujuan mengajak adalah untuk membantu bergotong royong membuat bangsal, tempat berkhatam – berzanzi, mencari kayu api, dan segala hal yang perlu disiapkan.

8)        Beganjal
Sama istilah dengan gotong royong. Pekerjaan yang digotongrotongkan antara lain; mengambil kayu untuk membangun bangsal (rumah perlengkapan dan masak); meminjam barang pecah belah; mengupas kelapa, dan lain-lain. Dengan perkembangan zaman, adat beganjal ini sudah jarang ditemukan. Apatah lagi pelaksnaan pernikahan tidak dilaksanakan di rumah, dan tuan rumah tidak juga masak melainkan menyewa jasa tukang masak (catering).

9)        Betanggas
Manfaat bertanggas adalah untuk mengeluarkan serta menghilangkan bau keringat serta untuk mengharumkan dan menyegarkan badan calon pengantin perempuan. Peralatan dan bahan-bahan yang diperlukan; (a) satu buah bangku, (b) tepak bara lengkap, (c) setanggi, serai wangi, kayu cendana, gaharu, (d) air panas, dan (e) tikar.
Cara bertanggas dimulai dengan mendudukkan calon pengantin (perempuan) di atas bangku, pengantin duduk tanpa baju. Dibawah bangku diletakkan tepak bara dan ramuan, kemudian calon pengantin ditutup dengan kain sebatas leher. Mengenai lamanya calon pengantin berada di dalam kain tersebut, tidak ditentukan secara pasti.
Setelah bertanggas selesai, dilanjutkan dengan belangi. Bahan-bahan untuk belangi, antara lain; (a) beras kunyit, (b) daun kemuning, (c) bedak sejuk, dan (d) air limau purut.
Pengantin zaman sekarang lebih senang menempuh jalur praktis untuk bertanggas dan belangi ini. Mereka lebih suka ke Salon karena dianggap lebih praktis, efektif, dan efisien.

10)    Gantung-gantung
Mengagantung adalah prosesi serangkaian acara penggantungan. Yang digantung terlebih dahulu adalah tabir. Prosesi penggantunga diawali dengan doa selamat, agar apa yang dilakukan mendapat ridha dari Allah. Kemudian dilanjutkan dengan pekerjaan yang lain, seperti perakne, dan pelaminan.

11)         Berandam
Berandam pada hakikatnya adalah membersihkan lahiriah untuk menuju kebersihan batiniah. Berandam dilakukan oleh tukang andam. Di Tanjungpinang tukang andam tidak hanya dari kaum perempuan, namun ada juga tukang andam laki-laki. Orang-orang yang menjadi tukang andam umumnya mempunyai kepandaian yang dipusakai secara turun temurun, atau bisa juga darimenuntut dengan tukang andam terdahulu.
Ungkapan adat dalam berandam :
Adat berandam disebut orang
Membuang segala yang kotor
Membuang segala yang buruk
Membuang segala yang sial
Membuang segala pemali
Membuang segala pembenci
Agar seri naik ke muka
Agar tuah naik ke kepala
Agar cahaya melekat di dada.







Peralatan dan bahan-bahan yang digunakan untuk berandam, serta perlambang yang terkandung di dalamnya :
1.      tempat duduk calon pengantin, pondasi kehidupan
2.      kain songket atau sejenisnya, menghimpun yang berserak dan menampung segala permasalahan yang lalu, sekarang, dan masa depan.
3.      kain putih, ketulusan, kesucian, dan kebersihan hati.
4.      lilin berkaki, penerang hati
5.      pisau lipat, gunting, dan sikat, pembersih jasmani maupun rohani
6.      benaang tukal, mempererat silaturahmi
7.      beras kunyit, beretih padi dan beras basuh, tepuk tepung tawar, pemberkah hidup.
8.      kelapa yang dibuang kulit, kesuburan dan cita-cita
9.      padi, rezeki
10.  talam tembaga yang berkaki, keutuhan rumah tangga
11.  seperangkat alat belangi, penegap semangat hidup.
12.  tepak bara, rasa cinta sesama.
13.  air limau purut, pembuang kotoran hati
14.  penepuk tepung tawar, ucapan tahniah.
Pelaksanaan berandam dimulai dengan mendudukkan calon pengantin pada alas tempat duduk yang dibuat dari kain songket atau sejenisnya yang dilipat sebesar ukuran pengantin bersila. Calon pengantin perempuan memakai kain sarung pelekat atau sejenisnya serta tidak memakai baju (berkemban). Selanjutnya barulah tepak bara dihidupkan, lilin dinyalakan dan semua peralatan berandam diletakkan di hadapan calon pengantin yang akan diandam.
Untuk langkah awalnya mak andam memulaikannya dengan menabur beras kunyit, di pakai kain putih, di tepuk tepung tawar untuk 3 orang ( keluarga terdekat membaca doa selamat ). Leher dikalungkan dengan benang tukal, yang dilanjutkan dengan mencukur rambut/bulu diatas kening (dahi).kedua pelipis dan bulu roma , mulai dari wajah , tangan hingga kaki ( bulu di daerah sendi-sendi ) setelah itu keseluruhan badan yang di anggap perlu. Kemudian dilanjutkan  dengan memperelok alis mata , kumis dan ada juga yang sampai mengasah atau membersihkan gigi calon pengantin.
Apabila telah selesai pelaksanaannya, kain pengalas tempat duduk, bulu dan roma yang jatuh dikumpul dan dibungkus serta diserahkan kepada masing-masing pihak calon pengantin. Setelah itu barulah calon pengantin didudukan di kursi dan mak andam pun mulailah melakukan meremas rambut dengan air limau purut dan berlangi. Hal ini berujuan agar kotoran di seluruh badan menjadi bersih dan badan berbau harum. Setelah beberapa menit kemudian lalu dibilas dengan air bersih dan diteruskan dengan mandi biasa. Setelah kegiatan itu calon pengantin dipakaikan baju kurung lengkap seperti sebelum berandam.
Kebiasaan yang tidak pernah dilupakan mak andam sewaktu akan mulai pencukuran/menggunting rambut ialah membaca mantra/jampi-jampi. Setiap mak andam memunyai mantra/jampinya masing-masing. Diantara jampi-jampi tersebut ada yang bunyinya sebagai berikut :
Bismillahirahmanirrahim
Limau manis limau setawa
Bedak langir pembuang sial
Aku mencukur kaki rambut si dare
Bertambah cantek sri naek muke
Ku semangat , ....
Cantik mulai hendak dipakai
Cantik molek dipandang mate
Berkat aku yang memakaikan sri muke,
kasihlah orang melihatnye
Berkat doa laillahaillallah... “    

Kalau calon pengantin perempuan lagi berhalangan, rambut yang dicukur dikumpulkan dulu, kemudian harus dimandikan bersama-sama di saat calon pengantin mandi hadas besar.

12)         Berinai Kecil
Berinai kecil disebut juga dengan curi inai. Berinai kecil maksudnya adalah menginai calon pengantin laki-laki dan perempuan sebelum waktu diinaikan. Sedangkan waktu berinai yang sebenarnya adalah setelah acara tepuk tepung tawar dilaksanakan. Oleh karena itu hal semacam ini disebut dengan curi inai atau inai curi ( inai sendi ).
Biasanya pelaksanaan berinai kecil dilakukan sehari sebelum prosesi akad nikah. Pelaksanaannya dilakukan oleh satu orang atau beberapa orang saudara mara calon pengantin baik laki-laki maupun perempuan.
Maksud berinai kecil ( inai curi atau inai sendi ) adalah sebagai pertanda bahwa calon penganti telah siap memasuki gerbang pernikahan dan karena itulah yang diinai hanya pada ujung jari jemari saja dan tidak sampai pada telapak tangan dan telapak kaki.
Inai yang akan digunakan calon pengantin laki-laki diantar dari rumah calon pengantin perempuan, biasanya diambil sedikit saja karena inai tersebut akan dipersiapkan pada acara berinai besar.

13)         Serah Terima Hantaran
Serah terima hantaran adalah penyerahan mahar mas kawin dari pihak laki-laki kepada pihak perempuan yang kemudian dilanjutkan dengan acara ijab kabul atau akad nikah. Ijab kabul merupakan acara yang paling dinantikan dan merupakan acara puncak dari segala prosesi pernikahan. Acara ini terkesan sakral.
Dalam ungkapan adat Melayu dikatakan :
Seutama-utama upacara pernikahan ialah ijab kabulnya
Di situlah ijab disampaikan
Disitulah kabul dilahirkan
Disitulahsyara ditegakkan
Disitulah adat didirikan
Disitulah janji dibubul
Disitulah simpul dimatikan
Tanda sah bersuami isteri
Tanda halal hidup serumah
Tanda bersatu tali darah
Tanda terwujud sunnah nabi

Alat yang disediakan untuk melangsungkan aakd nikah antara lain :
·      Tepak sirih
·      Sirih nikah yang diletakkan dalam senjong besar
·      Sirih puan yang diletakkan dalam senjong kecil
·      Tikar niah
·      Lilin berkaki
·      Tempat bara / cungap dari kuningan
·      Bunga rampai dalam dulang perak / tembaga






Sebelum mempelai laki-laki menuju ke rumah mempelai perempuan terlebih dahulu diadakan doa selamat dengan maksud agar seluruh prosesi yang akan dijalani mendapat kemudahan. Selesai membaca doa, dilanjutkan dengan menyantap hidangan se-adanya, langsung masuk dalam proses perjalanan menuju ke rumah mempelai perempuan dengan melalui tahapan :
1)        utusan pihak perempuan mengantar seperangkat pakaian untuk menikah, biasanya baju kurung degan songkok berhias. Sedangkan alas kaki memakai sendal capal. Pihak perempuan memakai baju kurung dan tudung manto. Sebelum mengenakan baju, mempelai wajib mengambil wudhu.
2)        Sebelum pengantin turun dari rumah terlebih dahulu dibacakan doa selamat.
3)        Calon pengantin bersalam dengan orang tua dan beberapa kerabat keluarga yang hadir.
4)        Calon pengantin turun dari rumah, diawali dengan pembacaan salawat nabi sebanyak tiga kali.
5)        Mak inang menaburkan beras kunyit bercampur uang logam.
6)        Susun urut barisan pengiring pengantin laki-laki :
a.       Barisan depan terdiri dari beberapa orang perempuan atau barisan ini disebut juga barisan pengiring.
b.      Barisan pembawa hantaran
i.        Pembawa tepak sirih
ii.      Pembawa mas kawin
iii.    Pembawa bunga rampai
iv.    Dikuti pembawa pengiring tambahan (kue, buah, alat sholat, kosmetik, dll)
c.       Mempelai laki-laki yang diapit oleh gading kiri dan gading kanan (pengapit).
d.      Rombongan pengiring laki-laki
7)        Sampai di halaman rumah mempelai perempuan, mak inang kembali menaburkan beras kunyit bercampur uang logam
8)        Rombongan dipersilahkan masuk, dan pengantin laki-laki dipersilakan duduk. Pada saat pengantin duduk, tidak boleh “terduduk” dan tikar alas nikah tidak boleh terlipat.
9)        Acara serah terima hantaran dimulai dengan penyerahan tepak sirih dilanjutkan dengan seluruh hantaran yang dibawa.
10)    Barang hantaran yang telah diterima dibawa masuk ke dalam kamar pengantin.
11)    Sebelum akad nikah dimulai, tok kadi mencari dua orang saksi, satu orang merupakan saksi wakil pihak perempuan, satu orang lagi merupakan saksi wakil dari pihak laki-laki.
12)    Melangsungkan Akad nikah

14)             Akad nikah
Dalam prosesi ini terbagi menjadi dua jenis tahapan, yaitu (1) Tahapan satu kali pengantin naik ke rumah pengantin perempuan, dan (2) tahapan pengantin laki-laki naik dua kali ke rumah pengantin perempuan.
Ø  tahapan satu kali pengantin laki-laki naik ke rumah perempuan
-       khatam Al-Quran
-       Serah terima hantaran dan mahar
-       Akad nikah
-       Tepuk tepung tawar dan Berinai besar
-       Bersanding dan bersatu

Maksud dari pengantin laki-laki naik satu kali ke rumah perempuan adalah apabila selesai tahapan mulai dari  khatam al quran hingga tepuk tepung tawar, pengantin laki-laki tidak dibawa pulang akan tetapi langsung disandingkan dan bersatu.
Jika yang mempunyai hajat cara seperti tersebut di atas, maka malam berinai kecil dijadikan malam berinai penuh, dan acara menghadang pintu dengan tali lawe juga tidak ada.
Biasanya tahap satu kali pengantin laki-laki naik ke rumah perempuan ini diadakan karena rumah pengantin laki-laki sangat jauh, sehingga tidak memungkinkan untuk kembali ke rumah.
Ø  tahapan dua kali pengantin laki-laki naik ke rumah perempuan
-       penyerahan hantaran dan mahar
-       ijab kabul akad nikah
-       tepuk tepung tawar dan berinai besar
-       khatam al quran
-       bersanding dan bersatu

Tahapan ini berbeda dengan tahapan yang sudah dipaparkan di atas. Pada tahapan ini setelah pengantin di tepuk tepung tawari, pengantin laki-laki dibawa pulang ke rumah terlebih dahulu. Setelah pengantin laki-laki kembali kerumah, pihak perempuan mengadakan acara khtaman dan juga diselingi dengan berzanzi atau hadrah. setelah itu barulah pengantin laki-laki datang kembali, acara dilanjutkan dengan bersanding dan tepuk tepung tawar. Pada masa pengantin laki-laki kembali untuk yang kedua kalinya inilah terdapat acara menghaddang pintu dan buka kipas.

15)             Berinai Besar dan Tepuk Tepung Tawar
Berinai besar adalah upacara berinai yang dilakukan diatas peterakne. Tahap pelaksanaan berinai besar dan tepuk tepung tawar dimulai dengan mempelai laki laki didudukkan diatas peterakne yang dipandu oleh mak inang. Caranya yaitu pengantin laki laki duduk pada posisi bersila, di atas paha mempelai laki laki diletakkan bantal susu ari sebagai pengalas tangan dengan posisi tangan telungkup. Barulah pelaksanaannya dimulai, yang didahulukan adalah unsur keluarga, tokoh agama dan adat sebanyak 3-7 orang ( jumlah ganjil ) dan begitu juga untuk mempelai perempuan.
Setelah selesai mempelai laki laki barulah mempelai perempuan didudukan di ataspeterakne dengan posisi duduk bersimpuh dan bantal susu ari diletakkan di atas pahanya, telapak tangan ditelentangkan diatas bantal susu ari diletakkan diatas bantal susu ari. Pelaksanaannya dimulai oleh keluarga tertua , tokoh agama dan adat yang (berjumlah 3 s.d 7 orang perempuan berjumlah ganjil , jika 7 orang diambil wakil dari pihak laki laki 3 orang dan pihak perempuan 3 orang serta satu orang tok lebai/Ka. Kua sekaligus untuk membaca doa). Mempelai yang akan didudukkan pada peterakne terlebih dahulu pengantin laki laki, setelah selesai dan dikembalikan ketempat semula (duduk disamping peterakne) ,barulah digantikan dengan mempelai perempuan hingga selesai . saat pengantin laki laki tepuk tepung tawar, pengantin perempuan berada dibelakang pelamin/dalam bilik) .
Didalam ungkapan adat Melayu dikatakan :
 Yang disebut tepuk tepung tawar
Menawar segala yang berbisa
Menolak segala yang menganiaya
Menjauhkan segala yang menggila
Meninding segala yang menggoda
Menepis segala yang berbahaya

Selain ungkapan tersebut ada juga ungkapan lain :
Didalam tepuk tepung tawar
Terkandung segala restu
Terhimpun segala doa
Terpatri segala harap
Tertuang segala kasih sayang

Setelah selesai tepuk tepung tawar, lalu orang yang menepuk tepung tawar mengambil sedikit inai langsung mencolet pada telapak pengantin, begitulah seterusnya. Apabila selesai si penepuk melakukan tepuk tepung tawar maka mak inang memberi berekat yang telah berisi wajik didadalam gelas/sejenisnya, dengan setangkai bunga yang terpasang pada secelis bambu (buluh) yang telah diraut dan ditusuk pada sebutir telur merah yang dibuat sedemikian rupa.
Acara tepuk tepung tawar pada pelaksanaannya ada yang dilaksanakan dengan cara duduk satu-satu (pengantin laki-laki dan perempuan terpisah), dan ada pula kedua mempelai duduk berdua sekaligus. Pelaksanaan duduk satu-satu dengan partimbangan bahwa kedua pengantin belum melakukan mahar batin dan akan melaksanakan tebus kipas. Sedangkan tepuk tepung tawar duduk berdua dapat dilakukan dengan partimbangan kedua mempelai sudah menikah.

Bahan-bahan yang digunakan pada prosesi tepuk tepung tawar terdiri dari :
a.       Beras kunyit, yaitu beras yang diaduk dengan kunyit yang sudah dihaluskan
b.      Beras basuh, yaitu beras yang direndam dan atau dicuci dengan air biasa.
c.       Beretih, yaitu padi yang dugonseng (digoreng tanpa menggunakan minyak goreng)
d.      Air tepung tawar, yaitu air yang diadu dengan beras giling
e.       Perenjis (alat untuk merenjis) merepukan gabungan atau ikatan dari beberapa jenis daun yang berjumlah ganjil (5—7) helai.
f.       Embat-embat, yang berisikan air wewangian

Tata cara menepuk tepuk tawar :
1.      Ambil “sejemput” beras kunyit[i], beras putih, dan beretih lalu taburkan melewati atas kepala, ke bahu kanan dan bahu kiri pengantin. Pada saat menaburkan, lafaskan salawat nabi 1 kali.
2.      Mencecahkan daun perenjis ke dalam air tepung tawar, lalu direnjiskan di atas dahi, bahu kanan dan kiri, lalu belakang telapak kedua tangan (posisi tangan pengantin harus telungkup). Untuk merenjis digambarkan dalam bentuk lam alif yang bermakana Allah Berkehendak.

    Mengambil sebutir telur, lalu meutari telur di muka pengantin. Setelah itu telur tersebut diletakkan di tempat semula.
4.      Mengambil sejemput inai lalu dioleskan di telapak tangan kanan dan kiri.
5.      Setelah semua orang yang ditunjuk sebagai penepuk tepung tawar selessai, acara ditutup dengan doa selamat. Jumlah penepuk tepuk tawar adalah bilangan ganjil, dimulai dari 3,5,7,9, dan 13.

Makna tepuk tepung tawar :
1.      Beras kunyit, beras basuh, dan beretih yang dihamburkan bermakana ucapan selamat dan turut bergembira.
2.      Merenjis kening bermakna berfikirlah sebelum bartindak atau teruslah menggunakan akal yang sehat.
3.      Merenjis di bau kanan dan kiri bermakna haru siap memikul beban dengan penuh rasa tanggung jawab.
4.      Merenjis punggung tangan bermakna jangan pernah putus asa dalam mencari rezeki, selalu dan terus berusaha.dalam menjalani kehidupan
5.      Mengalin telur bermakna pengharapan untuk dapat melahirkan keturuanan yang saleh dan ketulusan hati yang sakinah, mawaddah, dan warrahmah.
6.      Menginai telapak tangan bermakna penanda bahwa mempelai sudah berakad nikah. Dalam konsekuensinya penyadaran bahwa “sekarang” sudah tidak bujang atau dara lagi (sudah ada pendamping).
Doa selamat di penutup acara bermakna pengharapan apa yang dilakukan mendapat berkah dan ridho dari Allah Swt.

16)             Berarak
Merupakan kegiatan mengantar pengantin laki-laki ke rumah pengantin perempuan. Pada saat berarak pengantin laki-laki diusung, atau bisa juga berjalan kaki. Iringan pengantin disertai bunyi kompang dan rebana di sepanjang perjalanan. Ketika sampai di depan rumah pengantin perempuan, rombongan disambut dengan pencak silat, lalu silat tersebut “disambut” dari pihak laki-laki.
Setelah bersilat, rombongan pengantin laki-laki tersebut tidak serta merta melenggang ke dalam rumah. Mereka dihadang di pintu masuk dengan tali lawe (biasanya digunakan kain panjang yang direntang sebagai penghalang). Untuk membuka tali lawe, selalu diikuti dengan berbalas pantun dan tebus uang pintu. Uang tebusan ini sepenuhnya milik orang yang menjaga tali. Jumlah tebusan tidak ditentukan secara pasti, mengikut kesepakatan dari dua belah pihak saja.
Setelah tebusan disetujui, maka tali penghadang akan dibuka, selanjutnya iring-iringan pengantin laki-laki dipersilakan masuk. Di depan pintu beberapa perempuan sudah menunggu untuk menaburkan beras kunyit yang bercampur dengan uang logam. Rombongan terus berjalan menuju peterakne.

No comments:

Post a Comment